Dark Mode

DARK MODE

Lebaran-20


     Gema kumandang takbir menghiasi langit di penjuru negeri “Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar…” pertanda umat  muslim sebentar lagi akan merayakan hari kemenangannya. Ibu yang bermalam-malam di dapur menyiapkan makanan khas lebaran, Ayah yang bersenandung Takbir Semalam suntuk, kakak yang asik mencoba baju barunya, adik yang tak sabar menunggu THR dari om/tante. Semuanya menyabut hari raya dengan bersuka cita.
     Sayang oh sayang.. Lebaran tahun ini tak ada keramaian, tak ada salam-salaman, saat sholat eid tadi pagi pun terlihat sepi.  Kita semua tahu perkara ini tak lain dan tak bukan karena kehendak pencipta. Wajar kok kalau lebaran tahun ini kamu sedikit bersedih, kamu tak sendiri :D
     Perlu kita pahami juga sebagai muslim yang baik, kita perlu untuk beryukur dan bertawakal. Turunnya Covid-19 bukan berarti silaturahmi dengan keluarga terhenti loh yah. Alhamdulillah Zaman sekarang kita memiliki sebuah akses internet canggih yang bisa menghubungkan kita dengan keluarga dalam keadaan virtual. THR pun sekarang bisa melalui virtual, *buat om tante nanti saya kirim yah No Rekening saya ahaha :v
    Bukan hanya Covid-19, Kesedihan akan perpisahan dengan bulan romadhon pun tertuang pada hari ini. Dilema hati dibuatnya, harus bahagia atau harus bersedih. Sedih akan amalan yang belum maksimal ditambah tak tahu apakah tahun depan masih bertemu lagi dengan Romadhon atau tidak. Berdialoglah jiwa di sanubari.
     “Mengapa engkau bersedih? Kalau saja dikau telah membersamai romadhon dengan sebaik mungkin, buat apa bersedih? Kalau saja kesempatan digunakan dengan maksimal, perpisahan dengan siapapun tak akan membuatmu sedih.” Gumam saya dalam hati.
     Lagi lagi hatiku berkata, “Ada suatu hal yang seharusnya menyayat hatimu wahai diriku, Bukan  permasalahan Covid-19 dan bukan pula tentang perpisahan dengan bulan romadhon. Ya, tentang saudaramu.”
     Hal ini membuat saya teringat akan sebuah kisah..  kisah seorang ibu dan anaknya yang telah ditinggalkan pergi suaminya menghadapi ilahi, mereka kini hidup serba ketidakcukupan.
     “Nak, lebaran tahun ini tak ada baju baru. Nanti pakai baju yang lama saja,” Ujar ibu.
     “tak apa bu saya pakai baju sekolah saja asal kita bisa makan,” dengan polos anaknnya menjawab.
     Sang ibu pun tak tahan menahan perasaan, terang saja prihal makan pun mereka kesulitan. Ibu memasuki kamar dan menangis sejadi-jadinya. Habis air matanya berderai berjatuhan.
     Anaknya bingung dan mendekat seraya berkata, “bu ibu.. kenapa ibu menangis?”
    Ibu menjawab dan memeluk erat anaknya, “Seandainya ada ayah disini, hidup kita tak mungkin sesusah ini nak. Maafkan ibu nak.”
     Kisah lainnya tentang kakak beradik yatim piatu. Melihat adik yang termenung galau menatap keluar jendela membuat kakak pun bertanya.
     “wahai adikku, apa yang sedang engkau pikirkan?” Tanya kakak.
     “Saya Cuma melihat anak yang digendong ibunya kak,” Balas adik.
     Kakak yang tak kuasa menahan tangis memeluk erat adik seraya berkata, “Seandainnya ada Ayah dan Ibu, pasti kita tidak seperti ini.
     Begitu pelik kisah kakak beradik yang ditinggal pergi kedua orang tuannya. Mereka tak menginginkan baju baru, tak pula lontong lebaran. mereka hanya ingin pelukan hangat orang tuanya.

     Kedua kisah diatas mengingatkan saya juga tentang kondisi saudara muslim yang ada di negara konflik. “Bagaimana kondisi mereka? Apa baik baik saja?” pertanyaan ini lantas membuat saya berburu informasi lebih. Ternyata cukup miris melihat kondisi suadara muslim disana.
      Di negara konflik seperti Afghanistan, Suriah, Irak, Liybia, Palestina Alhamdulillah masih bisa melakukan Sholat Ied yang dikerjakan di antara puing2 bangunan rumah mereka yang sudah hancur dibombardir. Meredanya perang bukan berarti mereka aman, ketika sholat mereka masih berjaga-jaga dari serangan musuh. Bijaksana memutuskan untuk berjaga-jaga, karena tidak ada yang mengingkan kejadian pelik di gaza tahun 2018 terulang. Kala itu ketika kaum muslimin sholat jamaah, isra*l dengan kejinya menembaki kaum muslimin, hal ini mengakibatkan Lebih dari 120 tewas dan 3.800 orang luka-luka.
     Dilansir dari Replubika.co.id, bocah 12 tahun Ahmad Hussain mengaku tidak mengerti mengapa dirinya tak merayakan takbiran. Kata dia, tidak lagi ada waktu untuk menikmati Idul Fitri bersama empat adiknya, bersama ibu, dan ayahnya yang seorang buruh mingguan.
     “Saya benar-benar tidak ingat kapan terakhir merayakannya (Idul Fitri),” terang Ahmad.
     Perayaan Idul Fitri yang tak menentu juga dialami warga Suriah. Berada ditengah perang saudara, ribuan sipil terancam hidupnya, dan tak khidmat merayakan Idul Fitri. Di hari suci itu bukan tradisi maaf yang terjadi, pertumpahan darah masih terus berlangsung.
     Masalah dan fakta diatas yang begitu miris, kini berujung pada kesimpulan. Lantas apa solusi yang bisa kita lakukan? Apakah cukup dengan bersedih? Ya mari kita berbahagia. Tentunya bukan berbahagia dengan diri sendiri, melainkan mengajak semua umat muslim berbahagia. Banyak cara yang bisa kita tempuh, mungkin sobat memiliki pemikirannya masing-masing akan caranya tersendiri.
     Sebagai umat muslim sudah seharusnya bisa lebih peka lagi terhadap keadaan saudara2 kita. Saling mengulurkan tangan, menyambut dengan senyum kehangatan. Tak lupa pula mengangkat kedua tangan, seraya melantunkan doa untuk muslim di penjuru dunia. Jangan terlena oleh kesedihan berpisah dengan bulan ramadhan wahai sobatku. Mari sambut momentum lebaran kali ini dengan senyum bahagia dan saling mengajak muslim lainnya berbahagia :D
Taqabbalallahu minna wa minkum taqaball yaa karim, kullu ‘aamiin wa antum bi khair. Selamat merayakan hari kemenangan, mohon maaf lahir dan batin.
 

14 Komentar untuk "Lebaran-20"

  1. Sini nomer rekeningnya kak, coba dikirim wkwk

    Di tempat saya juga sepi, malah pada menggelar solat ied di rumah masing-masing. Semoga corona segera berlalu. Setidaknya ketika keluar rumah tidak ada rasa was-was di dada. Happy eid mubarak. Taqabbalallahu minna wa minkum🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wihhh aroma2 THR nih wkwk 😁

      Aamiin, semoga saat semuanya berlalu kita tak lupa berinteraksi secara offline yah :v

      Hapus
  2. MasyaAllah terimakasih sudah mengingatkan tentang saudara kita yang disana. Mohon maaf lahir dan batin dik, Terus tumbuh. Taqabalallahu minna wa minkum

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat berbahagia dan juga berbagi kebahagiaan dengan orang disekitar kak 😁

      Hapus
  3. minna wa minkum taqobal ya kariim.
    terus bersyukur dan melihat ke bawah. semoga kita semua digolongkan kedalam orang orang yang bertawakal.

    btw, dibagian kisah ibu sama anaknya, aku agak bingung. seharusnya kalo serba kecukupan, berarti segalanya tercukupi dong? serba kecukupan=kaya, mungkin yang dimaksud serba kesusaha kali ya, atau serba ketidakcukupan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh terimakasih kak atas kritik dan sarannya.. Menjadi evaluasi bagi saya agar lebih teliti lagi saat menulis.. 😊😊

      Hapus
  4. Mohon maaf lahir dan batin ☺
    Walau belum kenal secara offline, mungkin saja ada salah ketik atau khilaf ketika di grup.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga lekas dipertemukan di dunia offline ya😊

      Hapus
  5. Perspektif yang keren. Saat kita sedih lebaran ini ga ada baju baru , ga ada perayaan besar, saudara saudara kita yang lain bahkan lupa kapan pernah merayakan :"

    Btw, desain blognya keren. Gimana bisa sih dark mode gitu wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyontek gugel sih waktu bikin dark modenya uwhehe

      Hapus
  6. Tidak perlu minta maaf karena kita baru kenal awwkwkwkw

    BalasHapus
  7. terimakasih udah mengingatkan manusia yang sering lup bersyukur ini. Bener.. Apa kabar saudara kita disana? Sampe gak inget kapan terakhir hari raya ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hanya doa yang menjadi kekuatan sejati untuk saling menguatkan 🙏

      Hapus
Jangan Lupa Tinggalkan Saran dan Masukanya yahh

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel