Dark Mode

DARK MODE

Tak Ingin Mendaki Lagi

  
    Awal cerita, aku mendapatkan pesan via line dari seorang teman semasa SMA sebut saja dia Aldi. lewat pesan yang dikirimkannya, Aldi mengajakku untuk mendaki Gunung Dempo. Iya benar, tak lain dan tak bukan gunung yang berada di negeri orang Pesemah, Pagaralam Sumatera Selatan. Dempo memiliki ketinggian 3159 Mdpl, dengan ketinggian tersebut Dempo menjadi gunung api tertinggi ke-3 di sumatera.
    Eh,, kembali ke cerita... Nah ketika mendapat tawaran dari Aldi hati sempat bambang *eh bimbang, mengingat aku belum pernah mendaki apalagi untuk punya peralatan mendaki.. Walaupun begitu, Aldi kekeh mau mengajak mendaki dan keluarlah jurus rayuan mautnya dan akhirnya aku pun menerima tawaran tersebut ahahah.. Kami berencana menginap 1 malam di Dempo,  musabab kami harus kuliah pada hari senin dan Aldi pun sedang ada Ujian semester..  Gila bukan (?) ketika ujian sempat2nya dia mengajaku mendaki. yahh katanya sihhh refreshing, ujian jangan dibawa tegang, huffftt.. yah begitulah dan  masih banyak kegilaan lainnya –“
    Sebelumnya, Aku dan Aldi sempat keliling kota juga. Mau tak mau kami harus berkeliling untuk mencari pinjaman peralatan daki ke teman lainnya karena aku tak memillikinya satu pun.. Biarpun sedikit merepotkan tapi tak mengapa toh juga ini sesuai kesepakatan waktu Aldi mengajakku ahaha.. Setelah peralatan terkumpul kami kembali kerumah Aldi lalu mengecek peralatan satu per satu, barangkali ada alat yang rusak kan lebih baik kita antisipasi.. Keesokan harinya dengan tunggangan motor bebek kami bersegera pergi meninggalkan Kota Muara Enim menuju Kota Pagaralam.. Oh yaa kami pergi tidak hanya berdua, ada 1 orang lagi yakni kak Aldo senior di SMA dulu..
    Perjalanan Muara Enim menuju Pagar Alam menempuh waktu cukup lama, yah kurang lebih sekitar 4 jam.. Saat melihat tugu Pagar Alam hati begitu senang, wajar saja pantat sudah lelah ditambah bahu sedikit sakit yang sedari tadi mengenddong tas keril sepanjang jalan.. Tak lama bersantai kami harus pergi lagi karena yang kami tuju sebenarnya bukan kota Pagar Alam tetapi titik pendakian Gunung Dempo tepatnya kampong 4.. Perjalanan kami berlanjut yang tadinya hanya melewati jalan berkelok-kelok kini jalannya berbatu pula, tak jarang kami melakukan ritual dorong motor :v. Sesampainnya ke kampong 4, hari sudah malam kami pun bergegas menjumpai pak RT dan tak diduga kami mendapatkan berita yang tidak menyenangkan.
    Pak RT mengatakan, “Nak sebenarnya walaupun keadaan Dempo sudah normal, Dempo belum dibuka untuk pendakian. Apakah kalian tidak tau sejak bulan desember lalu Dempo dalam keadaan waspada (?) Namun tak usah dipikirkan, kalian  malam ini istirahat dulu dirumah bapak.”
    Waaah kami semua terkejut. Kami tidak ada yang mengetahui akan informasi itu, salah kami juga tidak mencari informasi terlebih dahulu sebelum mendaki. Kami pun memutuskan untuk melihat cuaca besok hari, jika dirasa nyaman kami akan tetap mendaki.
    Keesokan harinya kami memutuskan tetap melanjutkan pendakian, setelah pamit sama pak RT kami mulai berjalan menyusuri jalan bebatuan yang dikelilingi kebun teh.. Aku yang tak mau rugi lantas menghirup nafas dalam-dalam udara segar ini, hhuuupp fuh...  Rasanya menyenangkan menghirup udara segar seperti ini, aku jamin deh tidak akan hal ini dijumpai di kota.. Sepanjang jalan menuju titik nol pendakian kami menjumpai petani teh dan Aldi sama kak Aldo menyapanya “Pagi Pakde’.. Wooaaahhh aku baru tahu ternyata begini jadi pendaki, kurasa budinya lebih baik dari orang2 sombong itu *eh.. Setelah menyusuri jalan kebun teh kami sampai di titik nol pendakian.. disini awal mula segalanya..
    Kami memulai pendakian dari titik nol pendakian sekitar pukul 08.00 WIB.. Ampunn ternyata begini rasanya mendaki, berjalan dengan menggendong tas yang begitu berat ditambah track jalur pendakian yang cukup sulit.. Walaupun Aldi sempat berkata, “Nanti di jalur pendakian tidak ada bonus (jalan menurun).”  Yah aku tetep saja shock melihat jalannya yang terus menanjak.. Tak butuh waktu lama buat kami untuk istirahat, bisa jadi setelah berjalan 10 menit kami istirahat 5 menit. Pada saat itu yang ada dipikiranku hanyalah menghabiskan air minum di dalam tas. Aku merasa air minum yang kubawa penyebab tas ini berat.. Sekitar pukul 10.30 WIB kami belum juga sampai di shelter 1 dengan terpaksa kami memutuskan istirahat  makan siang di tengah jalan pendakian, toh tak ada juga orang lewat karena yang sedang mendaki Dempo hanya kami bertiga.. yah kami memutuskan makan siang lebih awal karena kami merasa kekurangan energi sehingga mudah lelah..
    Kak aldo yang menjadi koki kami kali ini. Dia sangat cekatan memasak dimulai dengan memasak nasi, lalu menggoreng tempe dan dilanjutkan menumis kangkung.. Seru ternyata makan bersama digunung, hal yang belum pernah terbayangkan oleh ku sebelumnya bisa masak dan makan disini.. Selepas makan kami berberes dan istirahat sebelum melanjutkan perjalanan.. yosh kali ini tasku sedikit ringan karena cukup banyak air yang telah digunakan tadi hehe.. Sekarang aku sedikit bersemangat untuk melanjutkan pendakian. Sekitar pukul 12.30 WIB kami tiba di Shelter 2.. Disini kami beristirahat untuk siap2 sholat zuhur dan kembali mengisi botol yang kosong (?).
    “Waduh penuh lagi dong airnya,  berat lagi dah tas aku.” Aku bergumam dalam hati ahaha..
    Aldi mengajakku turun ke sumber mata air tuk mengambil air minum dan wudhu.. lagi-lagi ak tak menyangka ternyata disumber mata air terdapat air terjun kecill ditengah hutan yang cukup memanjakan mata, suasana hutanya terasa banget.... Nikmat mana lagi yang kamu dustakan.. Setelah Sholat dan istirahat kami melanjutkan perjalanan lagi.. perjalanan ini cukup mengkhawatirkan menurutku, sepanjang jalan tadi begitu deras angin menerpa dan perkataan pak RT yang masih menari-nari dipikiranku.. diselah percakapan kami bertiga, kami sepakat untuk tidak memaksakan sampai puncak kalau ada hal yang tidak diinginkan terjadi karena tidak bisa dipungkiri keadaan dempo masih belum kondusif..
    Semakin kami berjalan kepuncak, jalur pendakian makin curam dan pepohonan yang tinggi sudah tak terlihat lagi.. Aku sebagai pemula pun tak jarang bergumam dalam hati, berasa tak akan sampai kepuncak kalo jalannya menanjak terus seperti ini.. Tapii.. Diujung sana aku melihat disela-sela pepohonan ada pemandangan yang luar biasa, pemandangan yang hanya bisa dilihat dari gunung.. begitu indah alam ciptaanmu ya Allah.. Sayangnya kami tak bisa berlama-lama untuk menikmati pemandangan. Hari yang semakin sore dan angin yang dari tadi terus menerpa, kami harus bergegas ke pelataran (tempat berkemah).. Dan akhirnyaa kami sampai di Top Dempo!!! Waktu menunjukan pukul 16.00 WIB kami memilih untuk istirahat dulu dan foto sebentar, toh juga kami hanya berjalan turun sekitar setengah jam untuk sampai di pelataran untuk berkemah..

     Angin sedari tadi menerpa kini hilang dan suasana menjadi tenang.. Namun, kali ini ada hal yang lebih mengerikan terjadi..Dengan cepat Kabut tebal menutup jalur pendakian, angin dengan serpihan embun bertiup kencang, suhu mendadak turun drastis.. Yahhh ini adalah badai!! Ya Allah mengapa pada pendakian pertamaku aku mengalami badai seperti ini.. Dan lagi-lagi ini hal yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya.. kami bertiga mengeluarkan isi tas dan memasukan kaki ke tas keril lalu berlindung di sela-sela pohon, kami berharap badai ini cepat berlalu.. Pukul 17.00 WIB badai pun tak hilang malah semakin menjadi-jadi, kondisi fisik kami pun mulai turun. Suhu yang terlampau dingin penyebab ingus terus menetes sendiri sedari tadi..
    “Badai ini akan lebih lama lagi berlalu, kita tidak bisa terus begini.. kita harus mendirikan tenda segera!!” ujar kak Aldo.
    Nihil usaha kami untuk mendirikan tenda, Badai bertiup dengan kencang.. Lalu kami memilih untuk menegakan tenda di jalur pendakian saja yang tertutup pohon2.. Pukul 17.30 WIB kami bergegas mendirikan tenda, tenda pun berdiri dengan apa adanya. Kami semua masuk kedalam tenda berlindung dari badai, biarpun tenda berdiri dengan apa adanya setidaknya  tidak akan melayang jika kami berada didalam..  Pukul 18.30 WIB kami berberes mengganti baju yang basah dan memasak mie untuk mengganjal perut agar tidak sakit.. selepas makan kami memutuskan untuk segera tidur. yah jujur sebenarnya tidak bisa tidur dan walau didalam tenda angin tetap masuk, aku pun hanya bisa berdoa tentu tak ada orang yang ingin mengakhiri hidupnya disini.. Badai sejak sore itu terus mengehempas apa pun yang ada disana sepanjang malam..
    Esok paginya dengan muka mengantuk musabab tidak bisa tidur semalaman, kami melihat cuaca diluar. Diluar cuaca sedang hujan dan kabut tebal belum juga hilang dan kabar baiknya kami masih diberi kesempatan untuk hidup sekali lagi.. Setelah berberes kami memutuskan untuk turun saja, karena tidak memungkinkan lagi untuk memaksa jalan ke puncak Dempo.. Sepanjang jalan pulang kerumah aku menyadari betul, ternyata tujuan mendaki bukanlah sampai kepuncak.. Tujuan pergi mendaki adalah pulang kerumah dengan selamat, karena ada orang yang sedang menunggu dirumah.. Sepanjang jalan pun aku bergumam untuk tidak akan lagi mendaki apa lagi gunung Dempo ini sungguh berat.. Namun entah mengapa, beberapa bulan kemudian aku kembali lagi ke Gunung Dempo untuk mendaki!!

Belum ada Komentar untuk "Tak Ingin Mendaki Lagi"

Posting Komentar

Jangan Lupa Tinggalkan Saran dan Masukanya yahh

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel