Dark Mode

DARK MODE

Ujung Penantian


     Juli 2018, saya yang sempat mengutuk diri untuk tidak mendaki gunung lagi kini malah kembali lagi untuk mendaki *jangan hujat saya plliss. Sejak pendakian yang lalu Dempo sudah kembali normal, inilah yang menjadi alasan Aldi mengajakku kembali mendaki. Pada pendakian kali ini kami akan berangkat dengan jumlah 7 orang yakni saya, Aldi, Aldi 2, Doby, Madi, Yuda dan Acong.
     Basecamp kami bertujuh kala itu di rumah Aldi, seperti biasanya kami perlu packing peralatan dan logistik sebelum berangkat. Selepas packing, sholat dan  makan siang, pukul 14.00 WIB kami memulai perjalanan ke negeri orang pesemah itu. Perjalanan ini tak terlalu melelahkan seperti tempo lalu, sekarang bebek kami berevolusi menjadi kuda besi. Perjalanan pun terasa singkat, sekitar jam 5 sore kami telah sampai di Pagaralam. Namun masalah pun kembali muncul ketika kami memasuki jalan menuju kampong 4, jalanan yang berbatu itu masih menjadi ciri khasnya, yang tadinya ritual naik turun motor sekarang berubah ritual naik turun dorong mobil :3. Sekitar pukul 19.00 WIB kami sampai juga di Kampong 4, kami bersegera registrasi dilanjutkan dengan sholat, makan, istirahat, dan tidur lebih awal.
     Subuh tiba, udara sejuk sekaligus amat dingin menusuk kulit nan tipis *biarpun gitu gak ada yang ngalahin dinginnya doi dah ahaha.. karena dinginya, mengambil air wudhu saja kita gemeteran. segelas kopi panas dan nasi goreng yang barusan dibuat Bu RT, tanpa basa basi langsung saja masuk ke mulut *dasar gak sopan wkwk :v. Pagi itu sebagian dari kami berberes, sebagian lagi peregangan otot dan sebagian lagi mondar mandir ke toilet ahaha.. Tepat Pukul 07.00 WIB lebih sedkit *eh, kami memulai dengan doa dan dilanjutkan melangkahkan kaki menapaki Dempo. Bismillah…
     Menapaki jalan bebatauan yang dikelilingi kebun teh sambil menghirup udara segar membuat fikiran menjadi tenang dan jernih kembali. Sepanjang jalan kami tak lupa menyapa petani teh yang kami jumpai “Pagi Pakdee”, lalu dibalas senyum hangat dari petani tersebut yang menggambarkan kebahagiaan amat nyata. Kala itu sempat terfikir olehku, menjadi orang-orang biasa nan sederhana itu tak membuat bahagia sebab tak memiliki apa yang orang kaya itu miliki.. Kini setelah melihat senyum hangat pakde, menyadarkanku bahwa keinginan kita yang begitu banyak lah yang membuat kita semakin miskin dan tak bahagia. Benarlah kata pak ustadz, kalau kita ingin kaya dan hidup bahagia perbanyaklah bersyukur..
     Pukul 08.00 WIB kami sampai dipintu rimba (titik nol Pendakian). Kami memulai pendakian di ketinggian 1400an Mdpl dan akan ke puncak 3100 Mdpl, Kalau dihitung secara vertical kami hanya perlu berjalan sekitar 1,5 Km. Eitss itu hitungan secara vertical, panjang jalur aslinya kurang lebih 10 Km. Hutan lebat dengan pepohonan yang tinggi menghiasi perjalanan kami, tak jarang kami menemukan pohon tumbang di jalur pendakian musabab Dempo cukup lama ditutup untuk pendakian (ini dijelaskan pada jurnal sebelumnya :D.) Masih cukup banyak hewan-hewan disini mulai dari hewan melata, berbagai macam burung, spesies monyet dan harap2 gak jumpa harimau *masih pengen nikah chooyy kwkwk. Tapi herannya rasa cemas akan ketakutan diterkam hewan buas gak pernah dirasakan saat mendaki, kurang tau juga saya mengapa, mungkin karena terlalu asik menikmati alam kali yah..
     Di tengah perjalanan akhirnya sampai di Lemari, ini bukan lemari seperti dirumah loh yah.. Lemari adalah sebutan untuk dinding yang tingginya kurang lebih 4 Meter yang dihiasi hijaunya lumut. Dinding dengan sudut kurang lebih 75 derajat itu, sedikit membuat pendaki sulit untuk melewatinya. Para pendaki biasanya berpengangan pada tali yang telah dibuat untuk melewatinya. Momen seperti ini yang mengasah kekompakan antar pendaki, tangan-tangan saling menyambut tangan lainnya. Pukul 12.30 wib kami sampai di shelter 2, kami istirahat, mengisi ulang air, sholat, makan siang dan sebagian teman lain sebats (sebats atau sebatang adalah sebutan atau kode untuk menghisap rokok)  eh saya tak merokok loh, saya tak kuat menghirup asap rokok yang bikin sesak itu –“.
     Kami melanjutkan pendakian sekitar pukul 13.30 WIB, cuaca yang sedari tadi mendung membuat stamina tak cepat berkurang, namun disisi lain sedikit cemas kalau hujan turun ditengah perjalanan. Jalanan tanah yang kami lewati tak berjumpa lagi, didepan kami sekarang track cadas (batuan gunung yang besar2), kalau saja hujan, track ini akan berubah menjadi aliran sungai mini. eh yang benar saja tak lama kami berjalan hujan pun turun, dengan gesit kami mengenakan jas hujan yang telah disiapkan sebelumnya. Track pendakian yang berubah menjadi aliran sungai membuat sepatu basah, hal ini memaksa kami untuk mengambil jalur sendiri dengan menyelip2 dipepohonan. Saya pun bergumam dalam hati “tepatkah saya mendaki lagi setelah mengalami bahaya badai tempo lalu, sekarang malah hujan yang begitu deras.” Bagaimanapun juga perjalanan harus tetap berjalan, tak mungkin kami berdiam diri ditengah lebatnya hujan..
     Tubuh yang terus bergemetar, jari jemari mulai kaku, lemas, lapar, dingin semua rasa itu menjadi satu. Hujan yang amat lebat sedari tadi perlahan menembus jas hujan kami, jalur pendakian yang tak begitu jelas membuat hati menjadi was-was. Saat itu saya hanya mengikuti orang yang berada didepan saya saja musabab jarak pandang tak bisa terlampau jauh lantaran hujan. Kepercayaan tim diuji, bahu membahu saling menyemangati satu sama lain. Teriakan “5 Menit lagi akan sampai” selalu diucapkan, kalau saja kondisi tidak seperti ini mungkin kami sudah tertawa seperti sebelumnya ketika mendengar kalimat itu. Kalimat itu kali ini benar2 menjadi energi positif yang mengalir sehingga memberikan semangat tuk terus mendaki lagi dan lagi.. Hujan sedikit mereda dan pergi berlalu entah kemana. Harapan kami Sedari tadi berbuah manis, didepan kami Top Dempo!! 


     Kami senang bukan main. tak berlama-lama disana kami lantas melanjutkan turun ke Pelataran (Lembah Tempat Berkemah), kami takut hujan akan datang lagi sedangkan kondisi fisik sudah menurun. Perjalanan turun sekitar 30 menit, cahaya diujung sana membuat kami spontan berteriakkk, whoaaaaaaaaaa… kami sampai!! Disana nampak juga sebuah tenda yang cukup besar, sepertinya itu bukan pendaki, nantilah kami mampir setelah tenda berdiri dan mengganti pakaian yang basah ini. Pukul 17.00 WIB kami sudah berada di tenda dan beristirahat, Acong yang sudah mengganti pakaiannya juga mengunjungi tenda yang kami lihat tadi sekalian mau minta rokok sih sepertinya musabab rokoknya sudah abis diperjalanan *bukan habis dihisap melainkan habis dibakar madi cuma2 wkwkw.. Malam berlalu, sesudah makan dan sholat isya kami mencoba untuk memejamkan mata.
     “Bangun bangun bangun” ujar Aldi. Kami bangun dan segera mendirikan sholat subuh sebelum Summit Attack. Bergetar badanku ketika takbir, Sholat subuh di alam terbuka dengan begitu ketenangan membukakan mataku betapa besarnya Allah. Menatap langit subuh yang masih terhiasi bintang nan cantik menambah ketakjubanku terhadap tuhan pencipta alam semesta, begitu indah ciptaanmu ya Allah *aku bergumam dalam hati. Melihat mentari yang perlahan menampakan sinarnya kami bergegas mengejar Summit Attack (istilah pendaki untuk menapaki puncak gunung). Dari pelataran menuju puncak membutukan waktu sekitar 30 menitan, kami harus melewati jalur dengan kontur tanah bebatuan kecil dan pepohan yang pendek. 30 menit berlalu dan,, INILAH PUNCAKK!! yang selama ini dicari..


     Perasaan aneh menyelimuti hati, pertama kalinya saya melihat pemandangan dari atas puncak ini. Kawah dempo nan cantik dikelilingi indahnya samudra awan dan mentari terbit menjadi komposisi pemandangan kala itu. Tak lagi terlihat manusia, mobil, rumah diatas sini. Sejenak aku tertegun melihatnya dan apa yang selama ini saya pikirkan semuanya salah besar. Ketika kita berhasil mencapai tempat tertinggi semua akan terlihat dengan jelas, namun kenyataanya semakin tinggi tempat yang ditapaki maka semakin sadar akan betapa kecilnya diri ini. Pengalaman yang amat berharga bisa berada dititik ini, setelah banyak halang rintang dan bahaya dilalui. Cukup lama kami mentadaburi alam ciptaan-Nya, kami pun kembali ke tenda.
     Sebagian dari kami berberes tenda, mengumpulkan sampah untuk dibawa pulang, memasak, dan mengambil air serta mencuci peralatan masak. Saya tentu mengambil bagian mengambil air dong, jiwa penasaran saya memanggil. Tentu saja sesuai dugaan, ada sumber mata air yang jernih dan cantik namanya telaga biru, air dari pegunungan langsung nih uweheh.. Sebelum melanjutkan perjalanan pulang kami pamit sama orang yang sedang berkemah juga, ya yang tenda besar kemarin kami lihat itu ternyata satu keluarga besar kepala desa. Mereka sudah satu minggu melakukan ziarah nenek moyangnya diatas sana, suatu hal yang menarik (?). setelah pamit, kami menapakan kaki dengan mantap untuk pulang.
     Banyak sekali bahaya ketika mendaki gunung, cuaca yang tak menentu bisa berujung maut. Apa lagi datang dengan membawa kesombongan tanpa persiapan apapun, kisah tragedi mungkin akan tercipta kala itu. Yah kurasa bukan prihal mendaki gunung saja, hidup pun akan berbahaya jika selalu berjalan dengan kesombongan dan keangkuhan. Ingatlah sobat, kita hidup bukan tentang diri kita sendiri, kita adalah tamu yang tak lebih hanya menumpang di dunia ini. Lalu bahaya mendaki bukan itu saja, ada lagi yang lebih berbahaya ketika mendaki yakni terkena racun yang perlahan melahap diri. Racun tersebut biasa orang sebut candu, mungkin ini asal muasal saya kembali lagi ke gunung ahaha.. Gunung akan membuat candu siapa saja yang menapakinya, sama seperti kamu yang membuatku candu bukan kepayang. Bersamamu ku merasakan permulaan yang pahit dan diakhiri dengan kisah yang manis *eh jangan baperrr maksut saya kopi atuh :3 ahahaha..

8 Komentar untuk "Ujung Penantian"

  1. Ditunggu cerita lainnya nder

    BalasHapus
  2. Ttep be careful yaa! Salam buat aldi wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. siaapp.. nanti salam tuan/nona saya sampaikan :D

      Hapus
  3. Kapanlah daku bisa sekali saja mendaki. Hem sebuah impian yang kadang hanya wacana :")

    Keren menurutku kalo pengalaman kita itu dituangkan dalam bentuk tulisan, macem jurnal ini. Ada kalanya memori otak tidak bisa menampung setiap kenangan, paling tidak dengan menuliskannya kita punya memori eksternal. Lanjutkan bung, mendaki dan menulisnya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pluss, jka nantinya harus ditiadakan dari dunia, biarkanlah jurnal biasa ini yang menjadi bukti keberadaan seseorang sepertiku :') terimaksihh supportny, dan semoga disegerakan untukk mendakinya..

      Hapus
Jangan Lupa Tinggalkan Saran dan Masukanya yahh

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel