Dark Mode

DARK MODE

Fajar di atas awan



Senja yang begitu cantik, hari itu sirna tertutup segumpalan awan hitam. Tak lama, hujan mulai membasahi bumi diikuti petir yang terus menggelegar. Hal ini membuat ia semakin tidak karuan. Ia yang sedari tadi dilanda kebingungan sebab ide yang hilang entah kemana. Kini yang ia lakukan mengetik lalu menghapus tulisanya, terus berulang begitu saja. Secangkir kopi hangat yang biasanya dapat membantu mencairkan ide untuk menulis, sekarang malah membeku dingin tersapu oleh waktu.

“Ah, mungkin rebahan akan menjadikan keadaan lebih baik.” Pikir lelaki itu.

Dia rebahkan punggungnya yang sedari tadi sudah cukup pegal duduk menghadap laptop tanpa ide. Tubuhnya pun paripurna menyatu dengan kasur. Selintas tergambar kembali kenangannya bersama teman-temannya saat kuliah dulu. Pikirannya hanyut terbawa oleh kenangan masa lalu. Ya, pantas saja, di luar sedang hujan. Hujan memang momen yang tepat tuk mengenang masa lalu.
 

***

Oktober 2018

Semester ganjil kali ini berhasil membuatku stress bukan kepalang. Harus menghadapi ujian tengah semester, menjadi panitia seminar nasional dan menjadi bagian tim kemenangan kampanye salah satu calon ketua BEM Fakultas. Habis 24 jam waktuku berada di kampus menyelesaikan urusan-urasan itu.  Hari demi hari semuanya berubah menjadi tambah tak karuan.

Semalaman aku berada di kampus berdiskusi menyelesaikan segudang masalah bersama teman-teman. Sepertiga malam terakhir kumanfaatkan sebagai waktuku tuk belajar dan mempersiapkan diri menghadapai ujian. Lalu paginya, aku pulang ke kos, mandi dan mengganti pakaian. Pukul 8 pagi, aku sudah berada di kampus lagi untuk melaksanakan ujian. Sungguh hari yang sangat melelahkan.

Setelah penat dengan urusan di kampus, sore harinya aku mengaji bersama teman sekelompokku. Setelah mengaji biasanya kami saling berbagi cerita, keluh kesah dan saling menyemangati satu sama lainnya. Kala itu, kakak tingkatku mengusulkan untuk melakukan kegiatan alam, mendaki bukit di kota seberang. Alasannya, karena di kelompokku saat itu rata-rata semuanya sedang dilanda stres dan dirasa butuh sedikit refreshing. Kami semua sepakat akan pergi mendaki setelah kami menyelesaikan ujian.

Hari yang direncanakan tiba. Ya, berangkat pagi merupakan sebuah wacana bagi delapan pemuda ini. Hari menjelang siang barulah kami memulai perjalanan. Kurang lebih 4 jam lamanya perjalanan yang kami tempuh tuk sampai di kaki bukit yang akan kami daki. Sesampainya kami di kaki bukit, dengan diiringi doa kami memulai langkah menelusuri jalan setapak membelah bukit itu.

Sepanjang jalan disisi kami terdapat kebun karet, kebun kopi, dan pepohonan yang menjulang tinggi. Langkah yang awalnya datar perlahan berubah menjadi tanjakan. Temanku yang baru pertama kali mendaki mulai kelelahan musabab beban berat yang dipikul di punggungnya. Temanku lainnya dengan sigap segera membantu dan memberi semangat. Ada juga yang lainnya ikut mencairkan suasana dengan lawakannya, ya walaupun bagiku sedikit garing.

Ini memang bukanlah pendakian pertamaku, sebelumnya aku pernah mendaki gunung yang jauh menjulang tinggi daripada bukit ini. Aku paham betul, puncak hanyalah sebuah bonus, kehangatan dan canda tawa teman-teman di perjalanan inilah yang merupakan momen terbaik ketika mendaki.

Hari menjelang sore, akhirnya puncak bukit kami gapai. Angin sepoi-sepoi dengan sopan menyambut kedatangan kami di puncak. Sang senja di kaki langit juga ikut serta memanjakan mata kami. Ah, suasananya begitu tentram dan menenangkan jiwa, sungguh kombinasi yang luar biasa. Hampir saja kami lupa mendirikan tenda oleh karenanya.

Senja yang sedari tadi perlahan menghilang, kini benar-benar hilang seolah habis dimakan oleh kelamnnya malam.  Namun, malam bagiku tak begitu menyeramkan. aku duduk di ujung bukit memandang ke depan. Di hadapanku ada sebuah bintang-bintang di bumi, jangan berfikir ini bintang di langit yang jatuh ke bumi. Ini sungguh bintang yang ada di bumi yang tak mau kalah terangnnya dengan bintang di langit.

Dari atas bukit ini, lampu rumah warga terlihat begitu indah layaknya bintang. Aku seolah terhipnotis oleh pemandangan yang ada di depanku. Dan pada akhirnya, Suasana ini menyadarkanku betapa kecilnya rumah-rumah itu, betapa kecilnya manusia, dan betapa kecilnya masalah yang aku hadapi. Namun beribu sayang, aku tak bisa berlama-lama menikmati pemandangan ini, hujan seketika turun dan memaksaku untuk kembali ke tenda tidur lebih awal. 

Gema suara adzan subuh masih terdengar dari atas bukit ini. Ku ambil air wudhu yang dingin itu, kubiarkan mengalir membasahi muka serta bagian tubuhku lainnya. Hmm, Sholat subuh saat berada di alam memberikan kenikmatan tersendiri bagi yang melaksanakannya. Lega rasannya.

Fajar tiba, bintang tak lagi menampakan kilauannya. Dihadapanku kini lautan awan yang begitu menakjubkan. Dan di ujung kaki langit, mentari sedang malu-malu menampakan dirinya. Sungguh, ku terpesona melihat cantiknya ciptaan Tuhan itu. Nyaman sekali rasanya saat itu. Fajar di atas awan.

“Bagaimana? Udah belajar apa aja dari perjalanan kita kali ini?” Tanya kak Hamid.

“Wah luar biasa, banyak yang bisa dipelajari kak, terutama tentang cara bersyukur.” Jawabku.

“Ya, kita perlu bersyukur atas nikmat yang telah diberi dengan bersikap tawazun (keseimbangan/adil).” kak hamid menepuk pundakku.

***

Setelah cukup lama mengenang masa lalu, lelaki itu bangkit dari kasurnya. “Hmm, tawazun.” Gumamnya. Ia kembali teringat tentang konsep tawazun. Di dalam ajaran islam tawazun memiliki 3 aspek, yakni; Ruhiyah (ruh), Fikriyah (akal) dan Jasadiyah (jasmani). Lelaki itu sadar, selama ini ia belum cukup adil terhadap hak yang tubuhnya butuhkan, ia rasa dirinya perlu untuk berlaku adil pada hidupnya.  Tak butuh waktu lama berfikir, lelaki itu memutuskan untuk segera menuntaskan kewajibannya terhadap hak pada tubuhnya.

Angin kembali berhembus, waktu mulai berputar. Kopi yang sempat membeku lantaran tersapu waktu, kini kembali hangat sebab semangat yang kembali berkobar. Indahnya mentari di ujung kaki langit yang tenggelam oleh kelamnya malam, bukanlah sebuah akhir yang bernama tragedi. Namun, itu adalah awal mula romansa seorang insan hidup di dunia. Fajar di atas awan.




19 Komentar untuk "Fajar di atas awan"

  1. Ketjee kak,
    Boleh titip cerita kak?��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wih, bolehlah kita berbagi cerita.. japri aja mas heehe

      Hapus
  2. Bnr sih kadang perlu tadabur alam dlu biar bersyukur. Skalian refreshing. Mantap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tadaburny via baca jurnal biasa aja dlu mbak, lagi corona soalny ahahah 🤣

      Hapus
  3. Pen naik gunung. Ayook kapan2 kita rencanakan bal :D

    BalasHapus
  4. Pengen ngakak dah sesi tulisan ini "mencairkan suasana dengan lawakannya, ya walaupun bagiku sedikit garing".

    peh temennya iqbal, kita belajar sama kang sule dulu wkwk

    BalasHapus
  5. Hikmah kehidupan memang dimana-mana ternyata, dijalanan bahkan kegunung pun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba.. Tinggal manusianya aja, mau belajar atau tidak hihi

      Hapus
  6. Deskripsinya kereeen. Bisa kebayang kondisi tokoh aku dari awal sampe akhir. Juga suasana yang dialaminya.

    Pesannya juga dapet banget bal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah kalo gitu syah.. Ikut seneng juga aku hihi

      Hapus
  7. Short story but meaningful🤗

    BalasHapus
  8. sebenernya keterangan tempat gak terlalu penting sih. cuman untuk beberapa orang kadang itu diperlukan untuk mencapai keselarasan rasa dengan penulis. wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukit besak lahat bukan.?

      Hapus
    2. Wihh masukan baru nih..
      Yapp, bukit besak lahat kak.. Hihihi

      Hapus
  9. Keren, tentang tawazun. Mudah diingat tapi sulit untuk dilakukan :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang adil itu cukup sulit.. kadang ketika kita merasakan sakit dahulu baru sadar tentang adil.. 😊

      Hapus
Jangan Lupa Tinggalkan Saran dan Masukanya yahh

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel