Dark Mode

DARK MODE

Mungkinkah bertemu kembali?

 

 

Tumpukan berkas di meja serta tempelan timeline di dinding menjadi ciri khas kamar pemuda itu. Kamar yang menjadi tempat favorit mengerjakan segala hal baginya. Namun, rasanya kali ini sedikit berbeda. Kamar itu diselimuti aura negatif, yang menjadikannya tak lagi terasa nyaman. Ada yang salah pikir Bara terhadap dirinya. Lelah, jenuh dan beban lainnya menumpuk di pundaknya.  

Albara atau bara adalah seorang pemuda pekerja keras yang kini bekerja di salah satu instansi ternama di kota Palembang. Hari-hari dijalaninya untuk bekerja, bahkan tak jarang di hari libur ia memilih ambil lembur.  Temannya tak lagi heran kalau Bara menolak tawaran jika diajak pergi nongkrong di akhir pekan. Ya, kalau gak lembur pemuda itu pasti tidur layaknya beruang hibernasi di musim dingin.

Namun, kali ini berbeda. Suasana kamar yang biasa ia gunakan untuk bekerja tak lagi terasa nyaman. Sesak, berantakan, kacau seperti kapal pecah. Serta semangat yang mulai memudar menuntun Albara ke jurang putus asa. Bara yang sadar akan hal itu memutuskan untuk mencari angin segar. Cafe di sudut kota menjadi tujuannya.

Cafe Bangindo adalah tempat favoritnya mencari ide ketika bekerja. Bukan cuma karena pemiliknya adalah teman satu sekolah Bara dulu tetapi  cafe itu menyediakan kopi yang menurut Bara kopi paling enak se-kota Palembang. Sayangnya, setiba Bara di lokasi, entah apa alasanya, cafe itu tutup.  

Bara tak tahu lagi harus kemana, ia pun terus memacu sepeda motor jadulnya keliling kota. Ya, meski kini Bara sudah cukup mapan, ia sama sekali tak tergiur dengan itu semua. Bara lebih memilih mengunakan motor lawasnya ketika semasa sekolah dulu. Kata orang sih “pria punya selera.” Hal itu berlaku juga terhadap sosok Albara. 

Seketika di jalan ada hal yang menarik perhatian Bara.  Di hadapanya ada sebuah taman kota yang sama sekali belum pernah ia kunjungi. Ia hentikan sepeda motornya dan memakirkannya. “Mungkin aku bisa menemukan angin segar disini.” Fikir Bara. 

Lalu, Bara mengelilingi taman tersebut. Ia lihat kanan-kirinya penuh dengan hijau pepohonan dan warna-warni bunga taman. Di tengah taman terdapat sebuah air mancur yang terus menarik perhatian Bara. Bara celingukan mencari tempat duduk kosong. Tepat di depan matanya, ada pohon rindang yang disisinya terdapat bangku taman panjang berwarna putih. Lantas tanpa pikir panjang Bara mengambil posisi.

Ia amati air mancur yang sedari tadi mencuri perhatiannya. Baginya air mancur itu amat menenangkan. Saat sedang hikmatnya Bara melihat air mancur, tiba-tiba dari kejauhan seorang gadis berkulit putih mengenakan pakaian serba pink dilengkapi kerudung panjang mendekati Albara. “Permisi mas, lihat buku saya gak? Tadi ketinggalan di bangku ini.” Sapa gadis itu.

“Eh sebentar, ini bukunya mbak?” jawab Bara setelah mencarinya.

“Oh iyaa mas, makasih banget yahh.” Gadis itu membalasnya dengan senyum.

Bara dengan suasana hati yang tak karuan menjawab dengan muka dan suara datar, “Sama-sama.”

Gadis tersebut ikut penasaran dengan hal apa yang terjadi pada Albara. “Ada apa mas? Ada yang bisa saya bantu?” dengan santun gadis itu menawarkan telinganya untuk mendengarkan cerita Albara. Bara sempat menolak tawaranya, hingga pada akhirnya Bara tak kuasa untuk menceritakan hal-hal yang membuatnya kacau kala itu.

Gadis itu merespon dan mencoba menenangkan Albara, “Mas coba lihat deh air mancur yang ada di depan kita. Jujur ini adalah tempat favorit saya kalau saya sedang merasa lelah tentang persoalan hidup. Coba mas bayangin, air itu terus mengalir, yang tadinya berada di kolam terus keatas hingga kembali lagi ke kolam.”

Perhatian Bara kini teralihkan oleh gadis itu. 

Gadis itu melanjutkan kata-katanya, “Gini mas, air itu adalah kehidupan. Kadang ada di kolam terombang-ambing dan kadang terbang bebas penuh bahagia di langit. Sama halnya dengan kita, kadang di bawah dan kadang di atas. Kita hanya perlu yakin masa-masa sulit akan segera berlalu dan pada masa itu kita cukup mensyukuri hal-hal baik yang pernah terjadi pada kita, dengan begitu saya rasa kita bisa melewatinya dengan baik.”

“Oh ya mas, jika lelah berlari mengejar dunia. Bijak rasanya untuk memilih duduk sebentar menghargai waktu yang dimiliki. Karena hidup itu singkat mas.. Life is short, Smile while you still have teeth. Saya permisi dulu yah mas.” Dengan senyum, gadis itu sedikit menghibur bara dengan quotesnya dan lalu pergi meninggalkan Albara.

Persaaan Albara kini menjadi lebih baik, bahkan bukan cuma beban di pundaknya yang meringan. Ada hal lain yang ditinggalkan gadis itu pada diri Albara.  Kini perasaan itu lebih dari sekedar kata-kata bahagia. Hingga pada akhirnya Bara sadar, ia  telah melupakan hal penting. Ya, ia lupa menanyakan nama gadis itu. “Ah sial ak lupa menanyakan namanya. Hmm mungkin gak yah kami bisa bertemu kembali.?”

13 Komentar untuk "Mungkinkah bertemu kembali?"

  1. Semangat bara! Life is short, smile while u still have teeth!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaaha bara gitu orangnya.. Semoga dia ketmu lagi dengan mba itu yah πŸ˜‚

      Hapus
  2. yaaaa kasian si Bara lupa bertanya nama dan minta kontakπŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo kata orang, itu tandanya bakal ketemu lagi eaa wkwkw.. πŸ˜‚

      Hapus
  3. Setuju banget. Kadang kita perlu diam sejenak buat mikir, bersyukur atas apa aja yang udah diberikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hooh mas.. Dengan bersyukur sepertinya beban hidup sedikit meringan.. Semangat πŸ”₯πŸ”₯

      Hapus
  4. Ciapalahh namanya ceweknya itu bal wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum kepikiran tan, tulah di jadiin epsode bersambung wkwkw πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
  5. Dasar Bara ganjen wkwkwk

    Jangan2 Bara adalah ente sendiri.
    iqBAl RAmadhani (BARA)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yahh ketauan resep namanya.. Wkwk

      Tapi ini fiksi loh, fiksi wkwkwπŸ˜‚

      Hapus
  6. Sayang sekali dak dapat nomor WA dia

    BalasHapus
  7. Owalah, namanya udah dikasih tau di cerita berikutnya. Saya baca yang kedua dulu baru yang ini duh wkwk

    BalasHapus
Jangan Lupa Tinggalkan Saran dan Masukanya yahh

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel