Dark Mode

DARK MODE

Bandung

 

Pukul 12.56, sedari pagi tadi hujan masih saja mengguyuri bumi Sriwijaya. Sungguh benar kata orang, hanya 1% air yang dibawa hujan, 99% lagi serpihan  kenangan. Bandung, kata yang terlintas di kepalaku kala itu. Entah kebetulan atau tidak, playlist lagu tiba-tiba juga memutar lagu Bandung – Fiersa Besari, kenangan dan kerinduan akan bandung pun kian bertambah.

 Menjejaki trotoar Braga
Melihat pelukis jalanan
Menggoreskan cerita
Tentang canda dan tawa

Bermain aku di taman kota
Menikmati renjana yang membiru

Aku terpikat berulang kali
Oleh sejuta pesonamu
Di kota ini aku temukan
Rangkuman persahabatan dan rasa cinta

Begitulah potongan lirik lagu Bandung karya Fiersa Besari. Lagu yang setia menemani perjalananku tahun 2019 silam. Ahh, lagu itu sukses besar membuatku bernostalgia. Ingin kembali lagi rasanya, namun untuk sekarang izinkan aku tuk menceritakan perjalananku saat itu.

***

Libur semester genap merupakan momen yang tepat bagiku untuk menyalurkan hobi traveling. Hanya dengan bermodalkan keberanian, aku bersama Dhanu mencoba tuk menjelajahi kota berjulukan paris van java itu. Kala itu kami memutuskan untuk menggunakan jalur darat, bukan cuma karena ongkos yang murah tetapi menyeberangi lautan menjadi bonusnya.

Tujuan pertama kami saat menapakan kaki di kota kembang adalah rumah Ikhsan sahabat semasa SMP dulu. Namanya juga musafir, sudah sewajarnya tempat menginap yang dicari terlebih dahulu ehehe..  :v

Bandung karya bung fiersa selalu menjadi pemandu perjalananku, ditemani Ikhsan kami berkeliling bandung mengikuti lirik. Mulai dari menjajaki trotoar braga, melihat pelukis di sepanjang jalan yang tengah menuangkan imajinya.  Terdengar juga lantunan violin yang sangat apik dimainkan oleh pengamen jalanan.  Instrument lagu “Cinta – Vina Panduwinata” tersebut berhasil membuat langkahku terhenti sejenak.

Tak luput alun-alun kota Bandung dari list yang akan dituju. Langit malam penuh bintang menjadikan kota Bandung semakin indah nan nyaman. Dihiasi juga oleh pasangan muda-mudi yang sibuk ke hulu ilir bergandeng tangan menghabiskan waktu bersama. Huftt, pantas saja bandung disebut-sebut sebagai salah satu kota romantis.

Bandung memang punya sejuta pesona, kali ini nampak kemerlap cahaya yang tak mau kalah terang dengan bintang-bintang. Caringin tilu atau bahasa Indonesianya tiga beringin memang tempat yang tepat menikmati seisi kota bandung yang terlihat seperti mangkuk yang berisi bintang-bintang. Ahahah maaf sedikit lebay tapi nyatanya memang begitu.

Selanjutnya sesuai lirik Bandung bung Fiersa, berburu kabut di lembang menjadi hal yang dinanti. Sayang, manusia hanya bisa berencana dan tuhan yang menentukannya. Alih-alih ingin pergi ke daerah lembang, gunung tangkuban perahu sedang erupsi. Yah apa boleh buat, terpaksa niat kami urungkan. Kata orang sih, Bandung menginginkan aku kembali lagi hihihi.

Sebelum kembali ke sumatera, secangkir kopi di dago pakar menjadi pilihan yang paling tepat buat kami. Tempat yang tepat dan waktu yang sangat tepat pula. Kebetulan aku bisa bertemu Riyadh teman SD dan Ghazy teman SMP. Sudah lama sekali kami tidak berjumpa dan kini mereka sudah menjadi orang besar di kampusnya masing-masing, menjadi ketua himpunan, ketua lembaga dakwah bahkan menteri bem. Ingin rasanya untuk menghentikan waktu agar bisa lebih lama lagi bercengkerama bersama mereka.

Lagi dan lagi, terbukti benar lirik bung fiersa. Di kota ini aku menemukan rangkuman persahabatan dan rasa cinta. Walau sudah lama terpisah oleh jarak dan waktu, di kota ini terangkum kembali persahabatan itu. Tak kuasa rasanya harus meninggalkan bandung. Bandung ku ingin kembali dan pasti akan kembali.

***

Oh yah,, hampir kelupaan.. Ikhsan mengatakan ada sebuah legenda tercipta saat kerajaan majapahit dan kerajaan pajajaran. Dan kepercayaan itu masih di pegang erat oleh suku jawa dan sunda hingga sekarang. Bahwa lelaki jawa tidak bisa menikah dengan perempuan sunda. “Waduhh, aku bakalan di blacklist sama perempuan sunda, di darahku mengalir darah orang jawa walau tidak tulen sih.” Celotehku dalam hati ahahaha.





19 Komentar untuk "Bandung"

  1. Gaya-gaya Pluviophile, dan "hanya 1% air yang dibawa hujan, 99% lagi serpihan kenangan" adalah benar wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo hujan, bawaanya pengen nostalgia mulu yah wkwkw

      Hapus
  2. Bandung memang sememikat itu, selalu dan selalu bikin yang pernah mengunjunginya ingin kembali lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kelak bisa kembali kesana.. Sama yg dikasih kalo bisa wkwk

      Hapus
  3. Dari kecil udah pengen ke Bandung, cuma takdir emang belum membawaku kesana wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sabar.. Semua akan bandung pada waktunya.. Semangat 🔥🔥

      Hapus
  4. Mantaap sekalii, kenangan pas di Bandung itu adalah jajanan2nya salah satunya seblak, keripik manohara, cokodot, lumpia basah, dan juga basreng, sedap sekaliii(seblak Bandung beda sama seblak sini lhoo ;")

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh kmrn blm sempet wisata kuliner seluruhnya sih.. Wkwkwkw kayakany emang harus kembali ke bandung nib

      Hapus
    2. Manohara itu artis yg waktu itu jadi korban penganianaan di negara tetangga kan? *eh

      Hapus
  5. Jadi pengen juga nih kak ke Bandung, next travel ajak aku ya kak hehe

    BalasHapus
  6. uwwwu Bandung memang nganenin baik wisata maupun udaranya adem. Wajib ke lembang dan pertunjukkn udjo sih kalo ke bandung lagi, keren habis🤤

    BalasHapus
    Balasan
    1. manjiwww kan.. itulah kenapa menjadi alasan kuat ingin kembali eaa

      Hapus
  7. Kalau baca/liat foto traveling atau berwisata gini bawaanya doa "Ya Allah semoga paandemi segeralah berakhir".

    BalasHapus
  8. Ayuk kang agendakan ke bandung bareng yang lain wkwke

    BalasHapus
  9. Ouh jadi Mas Iqbal ada keturunan orang Jawa tho ? wkkwk ayo mas dilanggar aja pamali orang Jawa nikah sama orang Sunda :3

    BalasHapus
  10. Wah pengen icip2 makanan Bandung:)

    BalasHapus
Jangan Lupa Tinggalkan Saran dan Masukanya yahh

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel