Dark Mode

DARK MODE

Atap Sumatera

 

 
Malam itu waktu berputar sangat lambat. Hati cemas, takut besok tak lagi bisa melanjutkan perjalanan. Ini kali kedua pengalamanku terasa berada diambang hidup dan mati. Saat pertama menghadapi badai ekstrim di puncak dempo tahun 2018 silam. Kini, menggigil bukan main, padahal posisi masih berada di ketinggian yang normal. Ayo otak berpikir positif saja.
 
Sang fajar telah menampakan sinarnya, adzan subuh bergema. Akhirnya waktu panjang telah berlalu. Syukur, semua resah hilang entah kemana. Khidmat sholat subuh di alam terbuka, tenang, tentram, damai. Alam memang tempat paling tepat untuk belajar bersyukur, hati terbuka dengan lapang mengilhami perbuatan selama ini.
 
Selepas sarapan, perjalan berlanjut memasuki hutan dan menapaki jalur terjal. Akar-akar pepohonan menjadi pegangan menopang keseimbangan tubuh yang tengah memikul tas - cukup berat. Akar-akar pepohonan yang membentuk trowongan alami juga menjadi spot foto yang epic hahaha..
 
Suara desir angin serta kicuan burung menjadi nyanyian merdu menghibur diri. Tenang. Damai. Ah, jika terus-terusan kukatakan hal seperti itu mungkin kalian tidak ada yang akan percaya. Tapi, sungguh. Belum lagi pemandangan hijau di depan mata menjadi video clip nyanyian burung. Hilang semua pikiran kusut penuh ambisi hiruk pikuk dunia.
 
Perjalanan berlanjut menelusuri jalur pendakian. Tak jarang berjumpa pendaki lainnya. Mari bang, begitulah gaya pendaki. Di hutan 5S tetap dilakukan  - senyum, salam, sapa, sopan dan santun. Terkadang ritual sesama pendaki itu ketika istirahat minum kopi dan sejenak bertukar cerita pengalaman. Bagi seorang pembelajar, kegiatan ini sangat memperkaya diri, makin lama ngobrol makin asik. Sayangnya perjalanan masih panjang, perjalanan mesti dilanjutkan.
 
Oksigen mulai menipis, pepohonan tinggi tak lagi terlihat, pertanda puncak sebentar lagi diraih. Tepat mentari sedikit bergeser ke barat, kami sudah sampai di shelter terakhir. Lekas mendirikan tenda dan menghidupkan kompor – memasak kopi. Dan selanjutnya menikmatii momen damai ini.. huffttt,, sampai juga di pos terakhir..
 
Okeh, puncak sudah terlihat, atap sumatera di depan.. Ternyata masih cukup tinggi untuk digapai. Sang senja di kaki langit perlahan merelakan diri dipeluk malam. Isitirahat lebih awal bijak rasanya untuk menghadapi summit attack besok jam 2 pagi. Selesai sholat isya, aku kembali ke tenda dan mencoba tidur dan berusaha melukis indah hari esok di dalam mimpi.
 
Kontur tanah di puncak berupa tanah batuan pasir, mirip kontur tanah di mahameru kalo temans pernah nonton film 5 cm. Selain perjalanan yang masih cukup jauh, hal ini menjadi sebab kami untuk mendaki pukul 2 pagi agar bisa melihat sang surya terbit. Tapi, alam tidak pernah bisa ditebak. Angin kencang memaksa kami mengurungkan niat untuk berangkat,. Hingga pukul setengah 5 pagi kami sholat di dalam tenda.
 
Pukul 5 pagi, angin sedikit mereda. Perjalanan, kami lanjutkan. Dengan mata yang mengantuk, kaki terus melangkah perlahan. Semakin tinggi kami berjalan, telinga terus berdenging sebab tekanan udara puncak. Lalu, biarpun angin yang sedikit mereda, tetap saja suhu terasa sangat dingin.. Hidung pun terus-terusan meneteskan kristal es - ingus yang membeku :3
 
Berlindung di balik tanah yang terbentuk seperti gua menjadi pilihan. Memaksa kondisi sangatlah tidak baik.. Berhenti sejenak, makan biskuit dan minum kopi kami lakukan, toh kami juga sudah terlambat untuk melihat sang surya di puncak. Ketika di alam keselamatan jelas paling utama.
 
Pukul 7 pagi mentari masih terhalang oleh awan. Mengigil, ya begitulah manusia. Manusia itu lemah, bahkan sangat lemah. Namun, manusia kadang suka lupa kalo manusia itu lemah. Dan disini aku merasa begitu lemah sebab mentari tak menampakan sinarnya. Ku terus langitkan doa, sebab tak lagi masuk akal jika terus melanjutkan perjalanan dengan kondisi tubuh mengigil.
 
Langkah sekejap berhenti. Telah tampak mentari di ujung langit sana. Meski terlihat malu-malu bersembunyi dibalik awan.. itu semua sudah lebih dari cukup menghangatkan. Indahh sekali ciptaanMu Allah. Bukan cuma parasnya, tetapi juga perlakuannya yang sangat baik membantu mahluk lain. 
 
Ahh, cukup. Tak sanggup lagi aku untuk melukiskan keindahnya melalui kata-kata. Untukmu yang membaca  ini, Tuhan kita itu sungguh romantis. Kau tak perlu jauh-jauh mendaki sebuah gunung untuk merasakannya, rasakanlah keberadaanya dengan hatimu dan disetiap nafasmu.. huftt, semoga kamu mengerti..








8 Komentar untuk "Atap Sumatera"

  1. Rencana yg sampai saat ini blm tercapai, Bahkan ke bukit besak jg blm. Huhu

    BalasHapus
  2. Gek bisalah adek jadi tourguide kami pas nak nanjak gek :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. ntapsss nih, biaya ditanggung panitia kan? wkwk

      Hapus
Jangan Lupa Tinggalkan Saran dan Masukanya yahh

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel