Dark Mode

DARK MODE

Hujan Di Langit Jogja

Boy Vecktor

Yogyakarta, 27 Desember 

Sejak pagi, langit Jogja sepertinya sudah tidak kuat lagi menahan gumpalan awan hitam, dan kini langit perlahan menumpahkan air hujan. Huftt.. Malangnya nasibku, lupa membawa payung sewaktu berangkat ke kampus tadi. Sekarang habislah aku, basah kuyup sampai kos-kosan. Tapi tak mengapa, aku bahagia! Akhirnya aku bisa menyelesaikan studiku dan bisa segera wisuda tahun depan. Yess!!

Aku lantas bergegas mengambil handuk, mandi, berganti pakaian, dan lanjut memasak mie instan serta menyeduh kopi. Sungguh hari yang melelahkan. Aku pun memutuskan untuk merebahkan badan di atas kasur - menyegerakan tidur. Namun, tidak lama ketika lampu kamarku padam. Tiba-tiba. TING! TING!

“Halo Bujang, apa kabar? Tahun baru ini ikutan kita ke Titik Nol Jogja yok!! Ahaha..” Suara di seberang sana terdengar sangat bersemangat. Ya, bukan Tono namanya kalau tidak selalu bersamangat.

“Ah, aku kira ada kabar penting apa. Aku udah mau tidur ini, ganggu aja lu Ton!”

“Ini kabar penting boy. Ayolah, kapan lagi kita bisa kumpul bareng anak-anak . Udah 4 tahun lu di Jogja, masa setiap tahun baru di kamar mulu. Lagian ini kesempatan terakhir lu buat ketemu Gadis. Menurut kabarnya sih, tahun depan Gadis  mau langsung lanjut studi ke luar negeri tuh” Tono terdengar terkekeh di ujung telepon asik menggoda. Entahlah sejak kapan dan darimana ia tahu rasa kagumku pada Gadis, padahal aku tidak pernah cerita soal ini ke siapapun.

Aku terdiam sejenak, lalu menyerah. ”Hmm.. Okelah,. Udah ya, aku mau lanjut tidur.. Bye!

“Nah gitu dong.. Akhirnya Bujang ikutan.. Okelah kalau gitu, semoga lu mimpi ketemu Gadis hahaha.. Bye!!” 

Yogyakarta, 31 Desember

“Hei!! Tono!! Bujang!! Sini-sini kumpul.” Teriak teman satu prodi, sesaat ketika melihat aku dan Tono sampai di titik kumpul yang disepakati. Sebelumnya kami semua bersepakat untuk berkumpul di daerah dekat Malioboro, baru kemudian lanjut berjalan kaki bersama menuju Titik Nol Jogja menyaksikan pertunjukan kembang api akhir tahun. 

“Eh, sorry gaes kami telat,.” Gadis datang terengah-engah, sepertinya ia habis berlari kecil bersama temannya melewati jalananan yang telah dipadati oleh ribuan manusia.

“Nah, pas banget waktunya.. Karena jumlah personil lengkap, kita bisa lanjut menuju Titik Nol Jogja!” Seru teman lainnya. 

Sepajang jalan tidak ada hal yang menarik. Kami hanya berjalan melihat pemandangan keramaian manusia. Rasa-rasanya mubadzir waktu dan tenaga. Kalau saja bukan karena Tono bilang ini kesempatan terakhirku untuk bertemu Gadis, aku sepertinya akan memilih tidur saja seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, kalaupun aku bisa bertemu Gadis saat ini, emang apa yang bisa aku lakukan? Entahlah..

Rombongan akhirnya tiba juga di tengah-tengah Titik Nol Jogja. Di sini benar-benar padat dan penuh sesak. Semua orang berkumpul hanya untuk menikmati momen-momen pergantian tahun. Sekalipun pedagang-pedagang kaki lima, mereka juga menikmati momen ini dengan mengambil kesempatan menjajakan barang dagangannya.

Antusias orang-orang semakin menggebu-gebu ketika memasuki waktu hitung mundur pergantian tahun. Suara keras Tono yang berada disebelahku melengking memekangkan kuping, “5… 4…. 3…. 2….1!!!”  DUAR!! DUAR!! DUAR!! Kembang api menghiasi langit malam kota Jogja. Indah. Namun, keindahan kembang api itu tidak dapat mencuri perhatianku dari Gadis. Wajah cantik dengan lukisan senyum tulus nan bahagia itu berhasil memikatku tak berdaya. Dan heiiii, tiba-tiba dia menatapku balik!! Ahh, aku jadi salah tingkah dibuatnya.

Yogyakarta, 1 Januari

Tidak berselang lama dari pertunjukan kembang api akhir tahun, Titik Nol Jogja masih saja padat bahkan lebih sesak dari sebelum kami datang. Rombongan pun memutuskan untuk kembali pulang ke Malioboro. 

Bersama rombongan, aku telah berjalan cukup jauh meninggalkan Titik Nol Jogja. Tapi ada yang aneh. ASTAGA!! Karena padatnya manusia, mataku teralihkan. Aku lihat kanan kiri depan belakang, ternyata rombongan kami sudah terpisah-pisah. Firasatku buruk. Aku pun kembali masuk ke kerumuan manusia itu - meninggalkan Tono dan yang lain.

Semua orang yang ku lihat di sini sibuk dengan diri mereka sendiri. Sepintas pemandangan ini mengingatkanku dengan kata mamak, “Nak, jangan bergantung pada orang lain, karena bahagia itu adalah tanggung jawab diri sendiri. Pada akhirnya semua orang akan sibuk dan hanya peduli dengan diri sendiri” Aku mengangguk membenarkan kata mamak, karena sekarang aku pun sibuk sendiri - fokus mencari yang dicari.

Tepat di tengah kerumunan itu aku melihatnya. Ya, aku melihat Gadis sendirian sedang tidak baik-baik saja. Memang sudah jadi hal wajar sesak, kekurangan oksigen di tempat seperti ini. Aku kemudian mendekati gadis, dan berdiri tepat disebelahnya. Dari jarak yang sedekat ini Gadis terlihat lebih cantik meskipun kondisinya sekarang begitu lemah. Ia yang menyadari keberadaanku langsung memegang lengan jaket yang ku kenakan. “Jangan tinggalkan aku Bujang.” Lirih Gadis. Dug!

Aku tidak percaya kejadian seperti ini akan terjadi. Kami perlahan berjalan bersama keluar dari kerumunan manusia ini. Naas. Sepanjang perjalanan mulutku terkunci rapat, tidak ada satu patah kata pun yang mampu keluar. Bukan. Bukan aku sok cuek, tapi kondisi ini di luar kendaliku. Bagaimana mungkin aku bisa mengendalikan situasi ini. Saat ini di sebelahku ada seorang perempuan yang selama ini amat ku kagumi sedang memegang erat lengan jaketku. 

Aku ingin sekali rasanya mengandeng tangan atau merangkulnya seperti ala-ala drakor. Tapi bagiku itu bukanlah sosok lelaki sejati, yang sembarangan menggandeng tangan atau merangkul perempuan bukan mahramnya. Aku tidak mau itu. Aku tidak ingin melanggar janjiku pada mamak, aku harus memperlakukan perempuan dengan baik dan penuh rasa hormat. Jika janji mamak saja aku langar, bagaimana aku bisa menjadi sosok seorang lelaki sejati seutuhnya.

Sepanjang jalan Gadis terkadang memegang erat lengan jaketku, memastikan diri agar tidak tertinggal. Mungkin karena langkah kakiku yang terlalu lebar menjadi pasalnya. Ya mau bagaimana lagi, ini kali pertamaku berjalan bersebelahan dengan seorang perempuan. Langkah demi langkah, kami berjalan pelan, diam tanpa suara. Saking heningnya, semoga saja Gadis tidak mendengar detak jantungku yang sejak tadi berdegup kencang. Dug! Dug!

Lagi dan lagi, ini sebuah kejutan yang tidak pernah aku bayangkan. Dari kejauhan terlihat teman-teman menunggu kami. Tepat sesampainya kami di titik kumpul awal, mereka memberikan kejutan yang telah dipersiapkan untuk kami. Ah, tidak. Aku salah. Aku akhirnya paham. Peranku kini telah usai. Kejutan itu bukan untuk kami, itu dipersembahkan untuk Gadis, ada seseorang di sana yang hendak menyatakan cintanya kepada Gadis.

Langkahku seketika berhenti. Kemudian berbalik badan. Mundur perlahan, meninggalkan yang lain pergi. Sepintas aku sempat melihat Tono menatapku seolah ingin mengatakan, “Maafkan aku Bujang.” 

Haa.. Kini semua telah tertinggal jauh di belakang menyisakan sesak di dada. Banyak pertanyaan menggantung. Kenapa? Kenapa? dan kenapa lainnya.

Di bawah langit Jogja aku berdiri ditemani derasnya hujan. Semesta sepertinya tahu sekali bagaimana cara menghibur seorang lelaki yang sedang patah hati. Seolah semua ini adalah konspirasi semesta tuk menguatkan diri ini. Percayalah Bujang, penjelasan akan datang padang waktu yang tepat, di tempat yang tepat, dan bersama orang yang tepat pula. Semua akan berakhir bahagia.

________________
Bersambung ~




Belum ada Komentar untuk "Hujan Di Langit Jogja"

Posting Komentar

Jangan Lupa Tinggalkan Saran dan Masukanya yahh

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel